Pages

Rabu, 09 Oktober 2013

Kunci Antik di Butik Anya
(part 3)
“Assalamu’alaikum warahmatullah, Assalamu’alaikum warahmatullaahiwabarakatuh..” ucapan salam sambil menengok kekanan dan kiri itu mengakhiri solat magrib Anya, dzikir, dan do’a tak lupa selalu ia sertakan setiap habis solat, juga mengucap hamdalah sebanyak banyaknya sebagai rasa syukurnya kepada Allah SWT, serta istighfar sebagai permohonan ampunnya kepada sang maha pencipta.
           
Karena perasaan nya yang sedang panik dan gelisah, Anya buru-buru merapikan mukena dan sajadahnya usai rangkaian ibadah solat magribnya dilaksanakan. Ia kembali mencari gantungannya yang hilang, kali ini seluruh penjuru rumah ia telusuri, tapi hasilnya nihil. “Anya, udah dong mondar-mandirnya, kamu makan dulu, dari pulang kerja kamu belom makan kan??” ajak sang Ibu yang daritadi sedang menyiapkan makan malam. “Bu Anya gabisa tenang kalo kuncinya itu belom ketemu, Ibu tau sendiri kan itu penting bu buat Anya,” jawabnya sambil terus mengecek setiap kolong, laci, lemari yang ada dirumahnya, “Anya, mau sampai kapan kamu kaya begini?? Memang hidup kamu semata-mata buat jaga kunci itu aja apa? Kamu harus lanjutin hidup kamu juga An!” sahut Bu Farah yang terlihat mulai risih dengan perilaku anaknya itu. “Bu..!”jawab Anya hendak menyangkal perkataan Ibunya, “Anya Zahara! Kamu pikir Ibu baik-baik aja? Tenang-tenag aja? Santai-santai aja selama ini liat kamu hidup untuk sesuatu yang ga ada? Selama ini kamu mencurahkan hidup kamu cuma buat jadi penjaga sama perawat kunci dan kotak tua gajelas itu? Aku Ibu mu nak, rasanya sakit liat anak yang aku besarin selama ini, pada akhirnya cuma mendedikasikan hidupnya buat 2 benda mati itu??!” sahut Bu Farah memotong pembicaraan Anya, “Ibu.. tadi Ibu bilang apa? Kunci dan kotak gajelas? Bu, aku pikir selama ini Ibu bisa ngersain apa yang aku rasain, Ibu ngerti gimana aku sekarang, dan kedua benda itu bukan benda gajelas bu, Ibu gapernah tau apa isi nya kan?” Anya menjawab perkataan Ibunya dengan air mata yang mulai membanjiri matanya, “tapi Anya.. seharusnya kamu itu...”, “seharusnya apa bu? Anya gapernah nyangka Ibu bisa ngomong gitu ke Anya, Anya pikir 3 tahun ini Ibu udah ngerti keadaan Anya, tapi.., yaudah bu, Anya mau istirshat dulu, Ibu tenang aja, Anya yang akan cari dan nemuin kunci itu sendiri, Anya ga akan ngerepotin Ibu kok!” jawabnya menyela perkataan si Ibu dan pergi meninggalkan Ibunya yang masih berdiri dengan wajah bersalah, terlihat matanya mulai berkaca.
           
Sedih, kecewa, kaget, panik, gelisah, dan marah, mungkin itu yang saat ini Anya rasakan setelah insiden ba’da solat magrib yang melibatkan dirinya dan sang Ibu. “kenapa bu? Kenapa.. Anya pikir selama ini Ibu tau gimana berartinya benda itu buat Anya, sekarang Aku harus apa? Marah sama Ibu? Nyuekin Ibu? Tapi, Aku sayang sama Ibu, apa tega aku bersikap sekeras itu sama Ibu? Tapi aku juga ga bisa terima semua ini, Ya Allah, apa ini? Masalah satu belum selesai ada lagi yang lain, dan kali ini harus aku dan Ibu yang berselisih, Ibu ... maafin Anya, Anya emang egois mikirin diri Anya sendiri, tapi Anya belum siap bu turutin semua maunya Ibu, Ya Allah, apa aku telah menjadi anak durhaka bagi Ibu ku? Ampuni hamba Ya Allah...” kemarahannya itu hanya diucapkannya dalam hati, bibirnya tak kuat mengatakan apapun setelah ia mendengar langsung persepsi sang Ibu kalau hidupnya selama ini hanya didedikasikan untuk 2 buah benda mati, karena sesungguhnya bukan itu yang terjadi, ada hal lain, yang Anya tutup rapat-rapat, begitu rapat hingga Ibunya sendiri pun begitu sulit menerima perubahan Anya sejak 3 tahun lalu.

           
20 menit kemudian setelah Tangisnya mulai reda, hatinya mulai tenang, dan puluhan lembar tisu sudah berserakan di kasur dan lantai kamarnya, Anya masih bergumul dengan perang batin yang terjadi di hatinya. Dari luar Ia hanya terlihat diam, diam dengan tatapan kosong, sesekali ia menyisihkan ‘ingus ‘ nya dengan lembaran-lembaran tisu yang setia mendampingi kesendiriannya. Bisa dibilang hari itu merupakan bom waktu yang selama ini ditahan oleh sang Ibu, bom waktu yang sudah Bu Farah tahan selama 3 tahun belakangan, dan hari ini, bersamaan dengan hilangnya kunci yang sangat Anya jaga itu, bom itu meledak, mungkin karena sudah terlalu sesak hanya berada di batin sang Ibu. (TBC)

Selasa, 08 Oktober 2013

Kunci Antik di Butik Anya
(part 2)
 “Ya Ampuunnnn!! Hah Astagfirullah! Astagfirullahal’adzim! Gantunganyaaaaa!!! Terus, kuncinyaa juga!! Aduh gimana ini.. masa ga ada sih?,” teriaknya panik setelah menyadari gantungan dengan bandulan kunci miliknya tidak lagi tergantung di risleting tasnya. Dibukanya semua risleting yang terpasang di tasnya, dikeluarkan seluruh isi tasnya, kemudia berlanjut dengan pencarian di seluruh sisi kasur Anya, hingga 10 menit kemudian pemandangan di kamar Anya tak berbeda dengan kondisi kapal pecah. Sprei yang tadinya terpasang cantik di spring bednya kini erserakan dilantai, bantal dan gulingnya sudah ada di depan pintu kamar mandi, juga isi tas yang tadi ia keluarkan semuanya.

Pencarian berlanjut ke Toyota Yaris milik Anya, dasboard, bagasi belakang, sarung jok, tempat menyimpan kaset, karpet, semua ia periksa dengan wajah panik. Bu Farah dan Pak Hamdin yang dari tadi memperhatikan kelakuan putrinya itu hanya geleng-geleng kepala melihatnya. Sejurus kemudian,

Allahuakbar... Allahuakbar... 2x
Asyhaduallaailaahaillallaah...
...


Adzan magrib dikumandangkan dari mushola As-Syuhada yang terletak 2 gang dari rumah Anya. “mbok ya shalat dulu nduk, baru nanti dilanjutkan mencarinya, tapi jangan lupa di beresi lagi, kamarmu itu loh, ora ono apik-apik ne tenan, cepet sana ambil wudhu.” Ucap Pak Hamdin seraya pergi meninggalkan rumah hendak menunaikan shalat magrib berjamaah di mushola, “hah iyadeh pak siapa tahu abis solat kuncinys ketemu yaa..”

Senin, 07 Oktober 2013


Assalamu’alaikum..
Lagi tertarik bikin cerita, jadi ngepostnya cerita bersambung ajaa, semoga suka sama ceritanya yaaa,
CONTOH  CERITA  BERSAMBUNG...

Kunci Antik di Butik Anya
(part 1)
Sore itu, seperti biasa Anya merapikan meja kerjanya yang ada di ruangan bertuliskan ‘Owner’ di butik miliknya dibilangan Jl. LLRE Martadinata (Riau), Bandung. Desainer 21 tahun itu sudah harus pulang kerumahnya sebelum azan magrib berkumandang, sebab itu adalah salah satu perjanjiannya dengan orang tuanya ketika nekat ingin membuka butiknya sendiri setelah berhasil lulus sebagai lulusan terbaik di salah satu sekolah fashion terbaik di kotanya itu.
            
Macet, itu yang langsung Anya hadapi ketika mau keluar dari parkiran butiknya. “Assalamu’alaikum..,” Anya menjawab telpon yang tak lain dan tak bukan adalah adalah Ibunya. “Iya Bu, ini Anya udah di jalan, ..” terdengar si Ibu berbicara dengan nada agak tinggi diseberang, “%&*($#@!!!”, “ya biasa lah bu, kaya baru seminggu aja tinggal di Bandung, macet gini..”, “$#@^&%%!!!” , “Bu, tadi Anya keluar jam setengah lima, kalo jalan lancar 15 menit juga sampe rumah, tapi karena ini menjelang weekend aja jadi orang pada belanja, parkiran penuh, jadi macet deh.. tunggu ya bu, eh ini giliran arah Anya yang dibuka jalannya, dah Ibu Assalamu’alaikum....”.
           
“...” di rumah Anya, Ibunya masih kesal karena telponnya ditutup gitu aja, “ihh dasar ni anak, Ibunya sendiri dianggap temen kali ya ga sopan,..” gerutu Bu Farah sambil meletakkan kembali HP nya ke dalam saku gamisnya. “kenapa sih bu?? Magrib-magrib malah ngomel ga baik, seharusnya di waktu kaya gini kita zikir, wirid, do’a, atau wudhu siap-siap solat..!” sahut Pa Hamdin ayah Anya yang sedang zikir di teras rumah, “bukan gitu pak, Ibu ga mau si Anya lupa waktu sampe telat pulang, kita punya perjanjian loh pak sama dia..” jawab si Ibu. Beberapa saat Pa Hamdin tetap fokus pada zikir sambil menggerakkan jarinya memutari tasbih, “dia udah 21 tahun Bu, beda sama dulu waktu dia masih 18 tahun, dulu dia buka butik masih terlalu muda, makanya bapak setuju sama perjanjian Ibu itu, tapi sekarang apa ga sebaiknya perjanjiannya di hapus saja bu?? Kita harus belajar percaya sama Anya bu..” , “tapi pak..” Bu Farah sudah siap dengan Argumennya, “bu.. bapak tau dia anak perempuan kita satu-satunya, beda sama Mas-Mas nya yang laki-laki semua, tapi itulah konsekuensi punya anak perempuan, kita harus sudah siap sama kenyataan kalo suatu saat nanti dia menikah, dan tinggal sama suaminya, seharusnya kita udah pikirin itu dari awal bu..” Pa Hamdin dengan bijak menasihati istrinya, “pak.. aku itu cuma ..” “bu, aku tau ko’ kamu itu takut toh kalo nanti Anya sing mau ninggalin kamu terus tinggal karo suamine?” sahut Pa Hamdin yang logat jawanya masih kental setelah 12 tahun terakhir pindah ke Bandung. Bu Farah hanya diam, Ia tak ingin membenarkan, tapi tak juga ingin menyalahkan pendapat suaminya, dalam diamnya sebenarnya ada pergulatan batin yang terjadi pada hati nya, ia ingin melihat Anya bisa bersanding dengan suaminya suatu saat nanti dan datang bersama anak mereka, tapi Ia juga masih belum bisa melepaskan Anya yang begitu disayangnya.
            
“tintin!!” pergulatan batin itu harus terhenti ketika suara klakson mobil Anya membuyarkan lmunannya, Mang Katro dengan sigap membukakan pintu dan tak lupa memberi salam hormat kepada anak majikannya itu. Anya yang keluar dari mobil usai memarkirkan mobilnya langsung mengucapkan terimakasih pada Mang Katro. “Assalamu’alaikum.. Bu,Pak, duh mau magrib beduaan aja diteras, lagi nostalgia yaa..” goda Anya sambil mencium tangan kedua orang tuanya. “eleuhh,, kamu mah, kenapa emangnya?? Ngiri yah sama Ibu?? Udah sana mandi nya cepet ya keburu azan..” canda Bu Farah sambil sedikit mendorong Anya masuk kedalam rumah. Tapi, Anya yang didorong Ibunya dan menyenggol pintu rumah tidak sadar kalau gantungan tasnya terjatuh, begitu juga dengan Ibunya, karena gantungan itu jatuh dan langsung masuk ke dalam pot kembang besar yang menjadi penghias di pintu masuk rumah Anya.
            
“segernyaaa..” ucap Anya pada dirinya sendiri ketika keluar dari kamar mandi yang ada di dalam kamarnya, untuk sesaat matanya hanya melirik ke arah tas berbranded D&G pertamanya yang tergeletak di kasur, dan mengalihkan padangannya ke arah meja rias. Tapi, ia baru sadar ada yang berbeda dari tas itu, matanya pun kembali memperhatikan tas itu, dan ...

           
“Ya Ampuunnnn!! Hah Astagfirullah! Astagfirullahal’adzim! Gantunganyaaaaa!!! Terus, kuncinyaa juga!! Aduh gimana ini.. masa ga ada sih?,” teriaknya panik setelah menyadari gantungan dengan bandulan kunci miliknya tidak lagi tergantung di risleting tasnya. (To Be Continue)

Rabu, 25 September 2013

Hello guys, this is my 2nd post since i have new blog, so excited to manage this blog hehe.. 
beside that, this week, my teacher give a team assignment, and that is 'RollPlayer' , me and my team have to show a short drama, and the dialog about advice and notice, as we learn now. And this is our short drama script, i wish, everyone that look at this post, can leave a comment for me... thanks!!!

ZOO KEEPER

(a couple come to an animal stall to feeding the animal)
Samantha : "My Dear Hans, look at that Oh My, they're so cute.. let's feed them by our peanuts, they looks so hungry.."

Hans        : "Ok! common! hey little monkey! come here, here is your food! hurry up.. you'll like it.." (the boy talk to the monkey)

Samantha : "woowww, so funny to feed them! oh let's take a picture with them... I'll post it in my Path hehe" (take a picture with monkey)

(a zoo keeper saw them, and warning them to go)
Zoo K.    : "excuse me, can you see? there're some notice, could you read them? so let me read it for you.. 'Please, don't feed the animal' and 'don't stand, sit, climb, and lean on zoo fences', so can you obey this zoo rules?"

Hans        : "Oh i'm sorry sir..., beib let's go we've to go now!"

Samantha : "I still wanna see them.. may i bring one of them?? please..."

Hans        : "hey, there is a zoo keeper, and we were make a mistake here.. we should go now.. " (pull his girlfriend's hand and go..)

(a few time letter, a woman come to meet the Zoo Keeper)
Faradina : "Assalamu'alaikum.."

Zoo K    : "Wa'alaikum salam.."

Faradina : "how's your day? are you tired?"

Zoo K    : "as you see now i'm very tired.."

Faradina : "common, that's live,.. oh this is your lunch, I made it by my self, hopefully you'll like it.. hehe"

Zoo K    : "really?? so proud to have a wife like you, thanks it's should be tasty.. be a zoo keeper isn't easy, people often to ignore the rules, although here is so many notice board, could you suggest me how to be a good zoo keeper??"

Faradina : "I advice you to keep in patient, because that's your job, you shouldn't get angry to them right?? so for me, a good zoo keeper is someone with incredible patience.. trust me!"

Allright all, I think it's enaugh I wish you can make the greater one from now..
TFA yaaa....



Hey world, I'm a new blogger :D please help me to do my best, nice to meet you all... kekeke :D