Assalamu’alaikum..
Lagi tertarik bikin
cerita, jadi ngepostnya cerita bersambung ajaa, semoga suka sama ceritanya
yaaa,
CONTOH CERITA
BERSAMBUNG...
Kunci Antik di Butik Anya
(part 1)
Sore itu, seperti biasa Anya merapikan meja
kerjanya yang ada di ruangan bertuliskan ‘Owner’ di butik miliknya dibilangan
Jl. LLRE Martadinata (Riau), Bandung. Desainer 21 tahun itu sudah harus pulang
kerumahnya sebelum azan magrib berkumandang, sebab itu adalah salah satu
perjanjiannya dengan orang tuanya ketika nekat ingin membuka butiknya sendiri
setelah berhasil lulus sebagai lulusan terbaik di salah satu sekolah fashion
terbaik di kotanya itu.
Macet, itu yang langsung Anya hadapi ketika mau keluar
dari parkiran butiknya. “Assalamu’alaikum..,” Anya menjawab telpon yang tak
lain dan tak bukan adalah adalah Ibunya. “Iya Bu, ini Anya udah di jalan, ..”
terdengar si Ibu berbicara dengan nada agak tinggi diseberang, “%&*($#@!!!”,
“ya biasa lah bu, kaya baru seminggu aja tinggal di Bandung, macet gini..”, “$#@^&%%!!!”
, “Bu, tadi Anya keluar jam setengah lima, kalo jalan lancar 15 menit juga
sampe rumah, tapi karena ini menjelang weekend aja jadi orang pada belanja,
parkiran penuh, jadi macet deh.. tunggu ya bu, eh ini giliran arah Anya yang
dibuka jalannya, dah Ibu Assalamu’alaikum....”.
“...” di rumah Anya, Ibunya masih kesal karena telponnya
ditutup gitu aja, “ihh dasar ni anak, Ibunya sendiri dianggap temen kali ya ga
sopan,..” gerutu Bu Farah sambil meletakkan kembali HP nya ke dalam saku
gamisnya. “kenapa sih bu?? Magrib-magrib malah ngomel ga baik, seharusnya di
waktu kaya gini kita zikir, wirid, do’a, atau wudhu siap-siap solat..!” sahut
Pa Hamdin ayah Anya yang sedang zikir di teras rumah, “bukan gitu pak, Ibu ga
mau si Anya lupa waktu sampe telat pulang, kita punya perjanjian loh pak sama
dia..” jawab si Ibu. Beberapa saat Pa Hamdin tetap fokus pada zikir sambil
menggerakkan jarinya memutari tasbih, “dia udah 21 tahun Bu, beda sama dulu
waktu dia masih 18 tahun, dulu dia buka butik masih terlalu muda, makanya bapak
setuju sama perjanjian Ibu itu, tapi sekarang apa ga sebaiknya perjanjiannya di
hapus saja bu?? Kita harus belajar percaya sama Anya bu..” , “tapi pak..” Bu
Farah sudah siap dengan Argumennya, “bu.. bapak tau dia anak perempuan kita
satu-satunya, beda sama Mas-Mas nya yang laki-laki semua, tapi itulah
konsekuensi punya anak perempuan, kita harus sudah siap sama kenyataan kalo
suatu saat nanti dia menikah, dan tinggal sama suaminya, seharusnya kita udah
pikirin itu dari awal bu..” Pa Hamdin dengan bijak menasihati istrinya, “pak..
aku itu cuma ..” “bu, aku tau ko’ kamu itu takut toh kalo nanti Anya sing mau
ninggalin kamu terus tinggal karo suamine?” sahut Pa Hamdin yang logat jawanya
masih kental setelah 12 tahun terakhir pindah ke Bandung. Bu Farah hanya diam,
Ia tak ingin membenarkan, tapi tak juga ingin menyalahkan pendapat suaminya,
dalam diamnya sebenarnya ada pergulatan batin yang terjadi pada hati nya, ia
ingin melihat Anya bisa bersanding dengan suaminya suatu saat nanti dan datang
bersama anak mereka, tapi Ia juga masih belum bisa melepaskan Anya yang begitu
disayangnya.
“tintin!!” pergulatan batin itu harus terhenti ketika
suara klakson mobil Anya membuyarkan lmunannya, Mang Katro dengan sigap membukakan
pintu dan tak lupa memberi salam hormat kepada anak majikannya itu. Anya yang
keluar dari mobil usai memarkirkan mobilnya langsung mengucapkan terimakasih
pada Mang Katro. “Assalamu’alaikum.. Bu,Pak, duh mau magrib beduaan aja
diteras, lagi nostalgia yaa..” goda Anya sambil mencium tangan kedua orang
tuanya. “eleuhh,, kamu mah, kenapa emangnya?? Ngiri yah sama Ibu?? Udah sana
mandi nya cepet ya keburu azan..” canda Bu Farah sambil sedikit mendorong Anya
masuk kedalam rumah. Tapi, Anya yang didorong Ibunya dan menyenggol pintu rumah
tidak sadar kalau gantungan tasnya terjatuh, begitu juga dengan Ibunya, karena
gantungan itu jatuh dan langsung masuk ke dalam pot kembang besar yang menjadi
penghias di pintu masuk rumah Anya.
“segernyaaa..” ucap Anya pada dirinya sendiri ketika keluar
dari kamar mandi yang ada di dalam kamarnya, untuk sesaat matanya hanya melirik
ke arah tas berbranded D&G pertamanya yang tergeletak di kasur, dan
mengalihkan padangannya ke arah meja rias. Tapi, ia baru sadar ada yang berbeda
dari tas itu, matanya pun kembali memperhatikan tas itu, dan ...
“Ya Ampuunnnn!! Hah Astagfirullah! Astagfirullahal’adzim! Gantunganyaaaaa!!!
Terus, kuncinyaa juga!! Aduh gimana ini.. masa ga ada sih?,” teriaknya panik
setelah menyadari gantungan dengan bandulan kunci miliknya tidak lagi
tergantung di risleting tasnya. (To Be
Continue)
0 komentar:
Posting Komentar