Pages

Senin, 07 Oktober 2013


Assalamu’alaikum..
Lagi tertarik bikin cerita, jadi ngepostnya cerita bersambung ajaa, semoga suka sama ceritanya yaaa,
CONTOH  CERITA  BERSAMBUNG...

Kunci Antik di Butik Anya
(part 1)
Sore itu, seperti biasa Anya merapikan meja kerjanya yang ada di ruangan bertuliskan ‘Owner’ di butik miliknya dibilangan Jl. LLRE Martadinata (Riau), Bandung. Desainer 21 tahun itu sudah harus pulang kerumahnya sebelum azan magrib berkumandang, sebab itu adalah salah satu perjanjiannya dengan orang tuanya ketika nekat ingin membuka butiknya sendiri setelah berhasil lulus sebagai lulusan terbaik di salah satu sekolah fashion terbaik di kotanya itu.
            
Macet, itu yang langsung Anya hadapi ketika mau keluar dari parkiran butiknya. “Assalamu’alaikum..,” Anya menjawab telpon yang tak lain dan tak bukan adalah adalah Ibunya. “Iya Bu, ini Anya udah di jalan, ..” terdengar si Ibu berbicara dengan nada agak tinggi diseberang, “%&*($#@!!!”, “ya biasa lah bu, kaya baru seminggu aja tinggal di Bandung, macet gini..”, “$#@^&%%!!!” , “Bu, tadi Anya keluar jam setengah lima, kalo jalan lancar 15 menit juga sampe rumah, tapi karena ini menjelang weekend aja jadi orang pada belanja, parkiran penuh, jadi macet deh.. tunggu ya bu, eh ini giliran arah Anya yang dibuka jalannya, dah Ibu Assalamu’alaikum....”.
           
“...” di rumah Anya, Ibunya masih kesal karena telponnya ditutup gitu aja, “ihh dasar ni anak, Ibunya sendiri dianggap temen kali ya ga sopan,..” gerutu Bu Farah sambil meletakkan kembali HP nya ke dalam saku gamisnya. “kenapa sih bu?? Magrib-magrib malah ngomel ga baik, seharusnya di waktu kaya gini kita zikir, wirid, do’a, atau wudhu siap-siap solat..!” sahut Pa Hamdin ayah Anya yang sedang zikir di teras rumah, “bukan gitu pak, Ibu ga mau si Anya lupa waktu sampe telat pulang, kita punya perjanjian loh pak sama dia..” jawab si Ibu. Beberapa saat Pa Hamdin tetap fokus pada zikir sambil menggerakkan jarinya memutari tasbih, “dia udah 21 tahun Bu, beda sama dulu waktu dia masih 18 tahun, dulu dia buka butik masih terlalu muda, makanya bapak setuju sama perjanjian Ibu itu, tapi sekarang apa ga sebaiknya perjanjiannya di hapus saja bu?? Kita harus belajar percaya sama Anya bu..” , “tapi pak..” Bu Farah sudah siap dengan Argumennya, “bu.. bapak tau dia anak perempuan kita satu-satunya, beda sama Mas-Mas nya yang laki-laki semua, tapi itulah konsekuensi punya anak perempuan, kita harus sudah siap sama kenyataan kalo suatu saat nanti dia menikah, dan tinggal sama suaminya, seharusnya kita udah pikirin itu dari awal bu..” Pa Hamdin dengan bijak menasihati istrinya, “pak.. aku itu cuma ..” “bu, aku tau ko’ kamu itu takut toh kalo nanti Anya sing mau ninggalin kamu terus tinggal karo suamine?” sahut Pa Hamdin yang logat jawanya masih kental setelah 12 tahun terakhir pindah ke Bandung. Bu Farah hanya diam, Ia tak ingin membenarkan, tapi tak juga ingin menyalahkan pendapat suaminya, dalam diamnya sebenarnya ada pergulatan batin yang terjadi pada hati nya, ia ingin melihat Anya bisa bersanding dengan suaminya suatu saat nanti dan datang bersama anak mereka, tapi Ia juga masih belum bisa melepaskan Anya yang begitu disayangnya.
            
“tintin!!” pergulatan batin itu harus terhenti ketika suara klakson mobil Anya membuyarkan lmunannya, Mang Katro dengan sigap membukakan pintu dan tak lupa memberi salam hormat kepada anak majikannya itu. Anya yang keluar dari mobil usai memarkirkan mobilnya langsung mengucapkan terimakasih pada Mang Katro. “Assalamu’alaikum.. Bu,Pak, duh mau magrib beduaan aja diteras, lagi nostalgia yaa..” goda Anya sambil mencium tangan kedua orang tuanya. “eleuhh,, kamu mah, kenapa emangnya?? Ngiri yah sama Ibu?? Udah sana mandi nya cepet ya keburu azan..” canda Bu Farah sambil sedikit mendorong Anya masuk kedalam rumah. Tapi, Anya yang didorong Ibunya dan menyenggol pintu rumah tidak sadar kalau gantungan tasnya terjatuh, begitu juga dengan Ibunya, karena gantungan itu jatuh dan langsung masuk ke dalam pot kembang besar yang menjadi penghias di pintu masuk rumah Anya.
            
“segernyaaa..” ucap Anya pada dirinya sendiri ketika keluar dari kamar mandi yang ada di dalam kamarnya, untuk sesaat matanya hanya melirik ke arah tas berbranded D&G pertamanya yang tergeletak di kasur, dan mengalihkan padangannya ke arah meja rias. Tapi, ia baru sadar ada yang berbeda dari tas itu, matanya pun kembali memperhatikan tas itu, dan ...

           
“Ya Ampuunnnn!! Hah Astagfirullah! Astagfirullahal’adzim! Gantunganyaaaaa!!! Terus, kuncinyaa juga!! Aduh gimana ini.. masa ga ada sih?,” teriaknya panik setelah menyadari gantungan dengan bandulan kunci miliknya tidak lagi tergantung di risleting tasnya. (To Be Continue)

0 komentar:

Posting Komentar