Kunci Antik di Butik Anya
(part 3)
“Assalamu’alaikum warahmatullah, Assalamu’alaikum
warahmatullaahiwabarakatuh..” ucapan salam sambil menengok kekanan dan kiri itu
mengakhiri solat magrib Anya, dzikir, dan do’a tak lupa selalu ia sertakan
setiap habis solat, juga mengucap hamdalah sebanyak banyaknya sebagai rasa
syukurnya kepada Allah SWT, serta istighfar sebagai permohonan ampunnya kepada
sang maha pencipta.
Karena perasaan nya yang sedang panik dan gelisah, Anya
buru-buru merapikan mukena dan sajadahnya usai rangkaian ibadah solat magribnya
dilaksanakan. Ia kembali mencari gantungannya yang hilang, kali ini seluruh
penjuru rumah ia telusuri, tapi hasilnya nihil. “Anya, udah dong
mondar-mandirnya, kamu makan dulu, dari pulang kerja kamu belom makan kan??”
ajak sang Ibu yang daritadi sedang menyiapkan makan malam. “Bu Anya gabisa
tenang kalo kuncinya itu belom ketemu, Ibu tau sendiri kan itu penting bu buat
Anya,” jawabnya sambil terus mengecek setiap kolong, laci, lemari yang ada
dirumahnya, “Anya, mau sampai kapan kamu kaya begini?? Memang hidup kamu
semata-mata buat jaga kunci itu aja apa? Kamu harus lanjutin hidup kamu juga
An!” sahut Bu Farah yang terlihat mulai risih dengan perilaku anaknya itu. “Bu..!”jawab
Anya hendak menyangkal perkataan Ibunya, “Anya Zahara! Kamu pikir Ibu baik-baik
aja? Tenang-tenag aja? Santai-santai aja selama ini liat kamu hidup untuk
sesuatu yang ga ada? Selama ini kamu mencurahkan hidup kamu cuma buat jadi
penjaga sama perawat kunci dan kotak tua gajelas itu? Aku Ibu mu nak, rasanya
sakit liat anak yang aku besarin selama ini, pada akhirnya cuma mendedikasikan
hidupnya buat 2 benda mati itu??!” sahut Bu Farah memotong pembicaraan Anya, “Ibu..
tadi Ibu bilang apa? Kunci dan kotak gajelas? Bu, aku pikir selama ini Ibu bisa
ngersain apa yang aku rasain, Ibu ngerti gimana aku sekarang, dan kedua benda
itu bukan benda gajelas bu, Ibu gapernah tau apa isi nya kan?” Anya menjawab
perkataan Ibunya dengan air mata yang mulai membanjiri matanya, “tapi Anya.. seharusnya
kamu itu...”, “seharusnya apa bu? Anya gapernah nyangka Ibu bisa ngomong gitu
ke Anya, Anya pikir 3 tahun ini Ibu udah ngerti keadaan Anya, tapi.., yaudah
bu, Anya mau istirshat dulu, Ibu tenang aja, Anya yang akan cari dan nemuin
kunci itu sendiri, Anya ga akan ngerepotin Ibu kok!” jawabnya menyela perkataan
si Ibu dan pergi meninggalkan Ibunya yang masih berdiri dengan wajah bersalah,
terlihat matanya mulai berkaca.
Sedih, kecewa, kaget, panik, gelisah, dan marah, mungkin
itu yang saat ini Anya rasakan setelah insiden ba’da solat magrib yang
melibatkan dirinya dan sang Ibu. “kenapa bu? Kenapa.. Anya pikir selama ini Ibu
tau gimana berartinya benda itu buat Anya, sekarang Aku harus apa? Marah sama
Ibu? Nyuekin Ibu? Tapi, Aku sayang sama Ibu, apa tega aku bersikap sekeras itu
sama Ibu? Tapi aku juga ga bisa terima semua ini, Ya Allah, apa ini? Masalah satu
belum selesai ada lagi yang lain, dan kali ini harus aku dan Ibu yang
berselisih, Ibu ... maafin Anya, Anya emang egois mikirin diri Anya sendiri,
tapi Anya belum siap bu turutin semua maunya Ibu, Ya Allah, apa aku telah
menjadi anak durhaka bagi Ibu ku? Ampuni hamba Ya Allah...” kemarahannya itu
hanya diucapkannya dalam hati, bibirnya tak kuat mengatakan apapun setelah ia mendengar
langsung persepsi sang Ibu kalau hidupnya selama ini hanya didedikasikan untuk
2 buah benda mati, karena sesungguhnya bukan itu yang terjadi, ada hal lain,
yang Anya tutup rapat-rapat, begitu rapat hingga Ibunya sendiri pun begitu
sulit menerima perubahan Anya sejak 3 tahun lalu.
20 menit kemudian setelah Tangisnya mulai reda, hatinya
mulai tenang, dan puluhan lembar tisu sudah berserakan di kasur dan lantai
kamarnya, Anya masih bergumul dengan perang batin yang terjadi di hatinya. Dari
luar Ia hanya terlihat diam, diam dengan tatapan kosong, sesekali ia
menyisihkan ‘ingus ‘ nya dengan
lembaran-lembaran tisu yang setia mendampingi kesendiriannya. Bisa dibilang
hari itu merupakan bom waktu yang selama ini ditahan oleh sang Ibu, bom waktu
yang sudah Bu Farah tahan selama 3 tahun belakangan, dan hari ini, bersamaan
dengan hilangnya kunci yang sangat Anya jaga itu, bom itu meledak, mungkin
karena sudah terlalu sesak hanya berada di batin sang Ibu. (TBC)
0 komentar:
Posting Komentar